Petrus di Era Presiden Soeharto, yang Bertattoo Langsung Mati Mayatnya jadi Teror Masyarakat
POJOKSATU.id – Di era Presiden Soeharto, pernah ramai petrus alias penembakan misterius. Tepatnya dimulai pada tahun 1982 silam.
Tidak seperti saat ini, dimana tattoo sudah banyak dimiliki baik oleh pria maupun wanita dan merupakan hal yang tak lagi tabu.
Berbagai macam bentuk, model, desain dan warna tattoo pun berkembang dengan pesat.
Bahkan bagi sebagian orang, tattoo dinilai sebagai bagian dari sebuah seni lukis tubuh dan bagian dari mode.
Tapi di tahun-tahun saat Soeharto menjabat sebagai presiden, memiliki sebuah tattoo menempel di tubuh sudah bisa membuat nyawa melayang.
Sebab di tahun-tahun tersebut, masyarakat dihebohkan dengan penemuan mayat-mayat
yang ditinggalkan begitu saja di sebuah lokasi.
BACA JUGA: Detik-detik Meninggalnya Soeharto di RSPP Pertamina Kebayoran Baru Tahun 2008
Kesamaannya, mereka yang kebanyakan bertattoo, ditemukan tewas dengan luka tembakan di bagian tubuhnya.
Saat itu, masyarakat hanya tahu bahwa mayat-mayat tersebut adalah korban petrus alias penembakan misterius.
Sedangkan yang jadi korban, selalu disebut sebagai penjahat atau preman.
Atau orang-orang yang dianggap sebagai penjahat, begundal sampai perusuh serta pembuat onar.
Bagaimana ceritanya? Siapa yang menentukan mereka adalah penjahat atau preman?
Ekonomi sulit
Meningkatnya kejahatan di kota-kota besar saat itu tidak lepas dari kondisi ekonomi yang semakin tak menentu sejak tahun 1970-an.
Ditambah dengan kenaikan harga minyak dunia pada 1980-an membuat Indonesia mengalami kebangkrutan karena 80 persen pemasukan negara dihasilkan dari penjualan minyak.
Akibatnya, pemerintah melakukan pemotongan subsidi energi dan pangan. Di sisi lain, nilai tukar Rupiah pun terus anjlok.
Salah satu upaya Soeharto adalah menarik investor asing dengan menawarkan buruh murah.
BACA JUGA: Pidato Terakhir Soeharto Saat Mundur Tahun 1998 Lalu Setelah Berkuasa 32 Tahun
Kebijakan itu kemudian memicu demo mahasiswa di kota-kora besar. Soeharto sudah dianggap tidak mampu memimpin Indonesia.
Pemerintah pun langsung memvonis gerakan perlawanan melalui demonstrasi itu sebagai tindakan kriminal.
Demontrasi dan perlawanan itu dianggap sebagai pemicu kerusuhan dan sumber masalah negara dan masyarakat.
Sejak itulah pemerintah melakukan upaya penumpasan para ‘kriminal’ itu dengan penembakan misterius atau petrus.
Alasan petrus
Petrus berawal dari operasi penanggulangan kejahatan di Jakarta.
Pada tahun 1982 silam, Soeharto memberikan penghargaan kepada Kapolda Metro Jaya, Mayjen Anton Soedjarwo atas keberhasilan membongkar perampokan yang meresahkan masyarakat.
Pada Maret tahun yang sama, di hadapan Rapim ABRI (saat ini TNI), Soeharto meminta polisi dan ABRI mengambil langkah pemberantasan yang efektif menekan angka kriminalitas.
Pernyataan yang sama itu juga diulangi Soeharto dalam pidatonya pada 16 Agustus 1982.
BACA JUGA: Kisah Cinta Soeharto dan Ibu Tien, Anak Petani yang Menikah dengan Putri Bangsawan Jawa
Permintaannya ini disambut oleh Pangopkamtib Laksamana Soedomo dalam rapat koordinasi dengan Pangdam Jaya, Kapolri, Kapolda Metro Jaya dan Wagub DKI Jakarta di Markas Kodam Metro Jaya 19 Januari 1983.
Dalam rapat itu diputuskan untuk melakukan Operasi Clurit di Jakarta.
Langkah ini kemudian diikuti oleh kepolisian dan ABRI di masing-masing kota dan provinsi lainnya.
Teror di tengah masyarakat
Ada sejumlah kriteria target petrus alias penembakan misterius yang kali pertama terjadi di Yogyakarta pada 1983.
Kemudian merembet ke kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, sampai Semarang.
Mereka yang termasuk target petrus antara lain anggota geng, mantan narapidana, mereka yang dicap ‘krimnal’ sampai yang bertattoo.
BACA JUGA: Kisah Soeharto yang Jarang Diketahui, Ternyata Pernah Ditampar Pendiri Kopassus
Kebanyakan para target operasi petrus adalah kaum laki-laki yang masih berusia muda.
Target yang sudah diincar lebih dulu ‘diculik’ lalu dimasukkan dalam mobil jeep atau Hardtop.
Dalam jurnal State of Fear: Controlling the Criminal Contagion in Suharto’s New Order yang ditulis Joshua Barker mengungkap cara-cara eksekusi petrus.
Disebutkan bahwa para korban dieksekusi di tempat sepi saat malam hari, yang sepi.
Cara yang dilakukan petrus mengeksekusi targetnya tidak lain adalah ditembak dalam jarak dekat pada bagian dada dan kepala.
Selanjutnya mayat mereka dibuang begitu saja, bahkan kebanyakan dibuang di tempat yang menimbulkan teror.
BACA JUGA: Tanpa Gembar-gembor ke Publik, Kisah Presiden Soeharto Blusukan Menginap di Rumah Warga Buat Kagum
Seperti di luar bioskop, di depan sekolah, hingga di jalanan sibuk di tengah perkotaan.
Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan ‘peringatan’ kepada masyarakat agar tidak melakukan sesuatu yang membuat pemerintah marah.
Kebanyakan para korban ditemukan dalam keadaan tangan dan kaki terikat penuh luka bekas penyiksaan.
Siapa bertanggung jawab?
Sejak berjalannya operasi petrus, angka kriminalitas dan kejahatan memang mengalami penurunan signifikan.
Tapi kemudian memicu gelombang protes dari sejumlah tokoh di dalam negeri.
Adam Malik, mantan wapres Soeharto pun bersuara keras saat itu.
“Jangan mentang-mentang penjahat kerah dekil langsung ditembak, bila perlu diadili hari ini langsung besoknya dieksekusi mati. Setiap usaha yang bertentangan dengan hukum akan membawa negara ini pada kehancuran,” kecam Adam Malik.
BACA JUGA: Kisah Presiden Soeharto Tembus Medan Perang Bosnia : Itu Rompi Antipeluru Kamu Jinjing Saja
Operasi petrus sendiri akhirnya dihentikan pada 1985 setelah ada tekanan dari dunia internasional.
Sejak 1982, tidak ada yang tahu pasti berapa orang yang jadi korban penembakan misterius atau petrus.
Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) mendata, puncak tertinggi korban petrus terjadi pada 1983 dengan 781 orang tewas.
Akan tetapi, jumlah korban tewas akibat petrus diyakini berjumlah ribuan.
Berdasarkan laporan Komnas HAM, korban tewas petrus mencapai lebih dari 2.000 orang.
Jadi, bagaimana menurut Anda tentang operasi petrus atau penembakan misterius ini? Siapa yang harusnya bertanggung jawab? (Guruh/Pojoksatu)















